Cafebahasa hadir sebagai sarana edukasi, pembelajaran, komunikasi serta sebagai media informasi bahasa, sastra, seni, opini-artikel, dan hasil mahakarya (proses kreatif). Kirimkan partisipasi Anda melalui email bbg_cla@yahoo.com

Selasa, 22 November 2011

Perlunya Perhatian Orang Tua


Siswaku Setiap Belajar Merasa Malu
Oleh: Bambang Setiawan, S.Pd

Beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan dengan kehadiran orang tua murid yang menanyakan tentang perkembangan anaknya di sekolah. Kekagetan saya bukan karena kedatangannya, melainkan alasan orang tua untuk mengetahui perkembangan anaknya secara detail selama kurang lebih dua bulan belajar di tahun pelajaran 2009 ini. Diceritakan bahwa, putrinya adalah siswa yang mempunyai bakat mewarnai sewaktu dijenjang Sekolah Dasar (SD). Alasan lain yang dikemukakan adalah kenapa “Putriku yang duduk dibangku SMP, belakangan ini menjadi malu, pemalu”, padahal dia mempunyai bakat dan talenta.
 Setiap kali belajar di sekolah (sebut saja Ana) sering merasa “malu dan mlinder” dihadapan teman-temannya. Berikutnya saya berinisiatif untuk memanggil siswa tersebut untuk saling tanya tentang kesehariannya termasuk saat belajar di rumah. Ana memang pendiam, kadang kalau ditanya oleh gurunya tidak pernah memberikan jawaban sepatah kata pun. Setelah melalui beberapa tahap bimbingan ternyata saya menemukan jawabannya.
Menurutnya, sewaktu dijenjang Sekolah Dasar (SD), Ana ditunjuk oleh gurunya untuk mengikuti lomba wewarnai Tingkat Sekolah Dasar. Namun saat itu, Ana terlambat datang di tempat lomba. Karena keterlambatan Ana, Sang Guru pembimbing di SD (Y) membentak-bentak dan memarahi Ana di depan teman-temannya yang saat itu sedang mengikuti lomba mewarnai.
Pada saat itulah psikologis Ana, menjadi “kehilangan mental”. Ternyata semenjak itu Ana menjadi pendiam, merasa bersalah. Ana pun “ternyata menyimpan Dendam” dengan Ibu Gurunya sampai saat ini. Hal inilah yang menyebabkan Ana merasa “malu’ setiap kali belajar. Ia merasa Trauma, kalau hal ini terjadi kembali dalam kehidupan pembelajaran di sekolah yang Baru ini. Maka tidak heran jika Ana setiap kali diberi pertanyaan oleh Bapak/Ibu guru sering kali tidak menjawab, bahkan sepatah katapun tidak terucap dari bibir Ana.



Rasa Bersalah dan Rasa Malu
Siapa sih yang tidak pernah merasa ‘malu’? Penulis yakin bahwa setiap manusia pernah mengalami rasa malu, dan mempunyai rasa malu. Ada yang menyatakan bahwa bersalah identik dengan malu. Orang yang bersalah umumnya akan merasa malu. Secara teoritis, rasa malu merupakan fenomena yang sukar dipahami. Malu bisa berupa peristiwa di mana orang merasakan rasa rendah diri yang sangat menyakitkan atau kehinaan yang sangat mendalam, ia juga merasa senantiasa terlihat buruk, tidak berharga (H. Albers, 1995:50). Orang merasa malu bila merasa dirinya tidak bernilai, tidak berdaya, dan putus asa. Perasaan itu bisa muncul karena penilaian orang lain atau penilaiannya sendiri atas dirinya. Rasa malu ini akan mengakibatkan perasaan tidak berharga, tidak penting. Hal inilah yang dialami oleh seorang siswaku. Maka dari itu, siswa yang mengalami hal demikian harus mendapat bimbingan secara optimal dan berkesinambungan.

Perhatian itu Penting
Berdasarkan cerita di atas, tentunya setiap siswa membutuhkan perhatian dari orang tua dan guru di sekolah. Mengapa? Penampilan seorang anak di masyarakat yang mengkian menglobal saat ini dan ke depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan anak di rumah dan di sekolah. Alasannya, karena pendidikan merupakan sebuah kegiatan manusia yang didalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktif yang diperuntukan bagi generasi yang sedang bertumbuh.
Siapa sih yang tidak membutuhkan perhatian? Setiap anak tentunya mengingkan perhatian dari seseorang. Sebenarnya seorang anak atau siswa itu membutuhkan tempat curhat. Baik itu antar teman, atau dengan orang tua dan guru di sekolahnya. Untuk mengatasi masalah-masalah pada siswa dibutuhkan teman atau orang yang dianggap mempunyai nilai kesejajaran. Kesejajaran dalam berpikir, berperasaan, berperilaku, dan bersosialisasi. Jika hal ini berhasil, tentunya kepercayaan anak pada dirinya akan meningkat. Hal ini penulis rasakan ketika mengadakan pendekatan dengan siswa yang sedang bermasalah.
Dengan berbagai pendekatan dan komunikasi yang baik, wawasan siswa dalam berpikir juga berkembang, karena siswa akan belajar menyelesaikan masalah dengan orang yang berbeda. Selain itu, peran orang tua  dan guru sangat diperlukan dalam dunia pendidikan. Apalagi dewasa ini pengaruh globalisasi dan teknologi yang semakin pesat, sangat berpengaruh dalam kehidupan siswa. Guru seharusnya banyak memberikan latihan yang diperlukan siswa untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Guru Mempunyai Peran dalam Perkembangan Siswa
Berbicara tentang guru, kita akan diingatkan dengan situasi lokal yang bernama sekolah. Banyak orang tua siswa yang tidak peduli dengan perkembangan belajar anaknya. Dewasa ini istilah atau kata “guru” dimata orang tua siswa sudah  mengalami erosi makna. Perlu diketahui bahwa guru mempunyai peran besar dalam perkembangan siswa. Guru bukan sekedar pekerja di sekolah. Jauh di luar pagar sekolah, guru adalah sosok panutan. Dalam istilah bahasa Jawa, guru adalah sosok manusia yang layak digugu dan ditiru.
Guru sangat berperan dalam perkembangan siswa terutama dalam membentuk karakter anak. Karakter adalah titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa  landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Mengapa perlu pendidikan karakter? Karakter akan membentuk motivasi  pada diri siswa atau seseorang. Selain itu pendidikan karakter dapat meningkatkan mental dan psikologi siswa, sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Sehubungan dengan hal ini guru sangat diharapkan memiliki karakteristik (ciri khas) kepribadian yang ideal sesuai dengan persyaratan yang bersifat psikologis dan pendagogis.

Oleh: Bambang Setiawan, S.Pd
Waka Kesiswaan SMP-SMA-SMK Pelita Raya Jambi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar