Cafebahasa hadir sebagai sarana edukasi, pembelajaran, komunikasi serta sebagai media informasi bahasa, sastra, seni, opini-artikel, dan hasil mahakarya (proses kreatif). Kirimkan partisipasi Anda melalui email bbg_cla@yahoo.com

Senin, 28 November 2011

Contoh Karya Tulis Kesehatan


PROPOSAL PENELITIAN
GAMBARAN PENDIDIKAN, PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA
TERHADAP SENAM LANJUT USIA DI PUSKESMAS
TALANGBAKUNG KOTA JAMBI TAHUN 2009
Telah dipertahankan dihadapan tim penguji.
Jambi, Juli 2009
Penguji
(Socha Elfrida, S.Pd, M.Kes)
Penguji H
(Ruwayda, SST, M.Kes)
Penguji III
(Haryono, S.Si)


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang bedudul Gambaran Pendidikan, Pengetahuan, dan Sikap Lansia Terhadap Senam Lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2009.
Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilimiah Penulis clapat mendapatkan bantuan, bimbingan, dorongan, dan arahan dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
  1. Bapak Dr. H. Facilan Maalip, SKM, selaku ketua Yayasan Perkumpulan Baiturahhim Jambi.
  2. Bapak Ir. Zafrullah Zein, MS, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kebidanan Baiturahhim Jambi.
  3. Bapak Dr. Firmanayah, SpOG, selaku Ketua Program Studi Dill Kebidanan Baiturahhim Jambi.
  4. Ibu Arifa Rahmi, selaku Sekretaris Dill Kebidanan Baiturahhim Jambi, yang selaku memberi masukan dan memperjuangankan kami menyusun proposal ini.
  5. Ibu Ruwayda, SST, M.Kes, selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan, dorongan, dan semangat sehingga penulis proposal ini clapat diselesaikan.
  6. Bapak Haryono, S,Si selaku pembimbing 11, yang telah memberikan saran dan sumbang pemikiran sehingga proposal ini dapat diselesaikan.
  7. Seluruh dosen beserta staf STIKBA Jambi Program Studi DIII Kebidanan yang telah memberikan ilmunya selama penulis berada di bangku kuliah.
  8. Orang tua dan keluarga besar atas segala perhatian dan pengorbanan untuk penulis berhasil menyelesaikan proposal.
  9. Rekan-rekan Angkatan I DIII Kebidanan Baiturahhim Jambi yang telah memberikan dukungan selalu bersama dalam suka maupun duku, sehingga proposal ini dapat selesai.
  10. Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan ini baik langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah masih banyak kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di mass yang akan datang.
Jambi, Juli 2009


Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................
KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakng  ....................................................................................... 1
  2. Masalah Penelitian ................................................................................. 7
  3. Pertanyaan Penelitian  ............................................................................ 7
  4. Tujuan Penelitian  .................................................................................. 8
  5. Manfaat Penelitian ................................................................................. 8
  6. Ruang Lingkup Penelitian........................................................................ 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
  1. Lanjut Usia............................................................................................. 10
  2. Pengetahuan........................................................................................... 16
  3. Pendidikan ............................................................................................ 18
  4. Sikap..................................................................................................... 18
  5. Olahraga (Senam Lansia) ....................................................................... 19
  6. Manfaat Senam Lanjut Usia ................................................................... 20
  7. Kerangka Teoritis................................................................................... 29

BAB III KERANGKA KONSEP
  1. Kerangka Konsep ................................................................................. 30
  2. Definisi Operasional  .............................................................................. 31


BAB IV METODE PENELITIAN
  1. Desain Penelitian ................................................................................... 32
  2. Populasi dan Sampel.............................................................................. 32
  3. Pengukuran Variabel ............................................................................. 32
  4. Pengumpulan Data.................................................................................. 33
  5. Pengolahan Data.................................................................................... 33
  6. Teknik Analisa Data............................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA
Kuesioner


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat. Pembangunan manusia seutuhnya yang bermula sejak saat pembuahan dan berlangsung sepanjang masa hidupnya meliputi aspek tidak, mental, sosial dan tidak dapat dilepaskan dari seluruh segi kehidupan keluarga dimana dia dibesarkan (Departemen Kesehatan R1, 2005:1)
Pembangunan Kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum sebagai yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pembangunan Kesehatan tersebut diselenggarakan dengan berdasarkan kepada Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yaitu suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa. Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guns menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Peningkatan kesadaran berbagai pihak pada kesehatan pada usia lanjut sangat dibutuhkan. Hal ini sangat penting dikarenakan orang lanjut usia memiliki permasalahan khusus terkait dengan kesehatannya. Dengan mengenyampingkan kebutuhan-kebutuhan khusus tersebut, maka akan mengurangi kesejahteraan orang lanjut usia dan meningkatkan biaya kesehatan bagi perorangan, keluarga dan masyarakat. Meskipun pusat kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia telah melakukan peningkatkan dalam hal kebijakan pelayanan kesehatan bagi para lanjut usia, pada kenyataannya belum berjalan secara maksimal karena kurangnya pengetahuan atau minimnya pendidikan para lanjut usia.
Maka dari itu, pemerintah harus meningkatkan pelayanan kesehatan berkenaan dengan para lanjut usia. Hal ini sesuai dengan Petunjuk Nasional bagi orang lanjut usia dan Kebijakan Nasional Departemen Kesehatan dalam rangka pelayanan kesehatan orang lanjut usia. Pelayanan kesehatan pada para lanjut usia merupakan tujuan pembangunan nasional. Kegiatan ini dimulai dari kesehatan keluarga, sebagai salah satu unsur dasar kesejahteraan keluarga akan memperkuat ketahanan keluarga yang selanjutnya memperkokoh Ketahanan Nasional.
Orang lanjut usia yang mengabaikan kesehatannya akan mudah terjangkit penyakit yang umumnya menyerang lanjut usia. Penyakit ini dapat dicegah jika para lanjut usia menjaga kesehatan dan berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Indonesia diamanatkan bahwa kesehatan merupakan salah satu aspek dari Hak Asasi Manusia, yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 28 H ayat (1) : "setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan".
Sebagai pelaku dari pada penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalah masyarakat, Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota), badan legeslatif serta Badan Yudikatif. Dengan demikian dalam lingkungan pemerintah baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus saling bahu membahu secara sinergis melaksanakan pembangunan kesehatan yang terencana, terpadu dan berkesinambungan dalam upaya bersama-sama mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Provinsi Jambi adalah provinsi yang sinergis dalam pembangunan kesehatan. Pendidikan masyarakat yang relatif tinggi dan akses informasi tentang segala hal termasuk informasi kesehatan, serta kesadaran hukum yang tinggi, menyebabkan semakin bervariasi dan tinggi tuntutan kebutuhan kesehatan. Hal ini akan membawa dampak luas dalam pelayanan kesehatan termasuk kesiapan informasi untuk mendesain dan menilai pelayanan kesehatan yang tepat.
Penduduk Provinsi Jambi tahun 2007 berdasarkan data BPS adalah 2.742.200 jiwa terdiri dari laki-laki 1.397.800 (50,97%) jiwa dan perempuan 1.343.500 (48,99%) jiwa. Jumlah penduduk yang berusia 60-64 berjumlah 54.000 jiwa, dengan rincian 28.900 (53,51%) jiwa laki-laki dan 25.100 (46,48%) jiwa perempuan. Penduduk berusia 65-69 berjumlah 39.000 jiwa, dengan rincian 19.900 (48,71%) jiwa (laki-laki) dan 19.100 (48,97%) jiwa perempuan. Sementara itu, usia 70-74 berjumlah 27.900 jiwa dengan rincian 13.900 (49,82%) jiwa laki-laki atau dan 14.000 (50,17%) jiwa perempuan sedangkan berusia diatas 75 tahun berjumlah 25.000 dengan rincian 11.900 (47,6%) jiwa laki-laki, dan 13.100 (52,4%) jiwa perempuan. Berdasarkan sumber data dari Buku Jambi dalam Angka Tahun 2007 bahwa jumlah penduduk menurut jenis kelamin, kelompok umur, rasio beban tanggungan kota Jambi adalah 458.308 jiwa, dengan rincian 234.775 (48,37%) jiwa laki-laki , dan 223.533 (48,77%) jiwa perempuan.
Berdasarkan data dari subdin PMPK Dinkes Kota Jambi Tahun 20009 diperoleh data bahwa kota Jambi memiliki sebanyak 20 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Perhatikan tabel berikut ini.
Tabel Data Kunjungan Di Puskesmas Kota Jambi
Bulan Desember 2008 s.d April 2009

No
Nama Puskesmas
Jumlah Kunjungan
Kategori Umur
Keterangan
Baru
Lama
45 - 59
60 - 69
> 70

1
Puskesmas Putri Ayu
2010
1069
1845
793
441

2
Aur Duri
732
963
871
563
322

3
Simpang Sipin
684
1033
1033
676
399

4
Tanjung Pinang
283
607
478
319
123

5
Talang Banjar
597
2253
1786
651
431

6
Payo Selincah
1012
1473
1634
532
319

7
Pakuan Baru
2144
2708
2718
1271
749

8
Talang Bakung
1056
4310
3317
1398
655

9
Kebun Kopi
184
647
439
264
171

10
Paal Merah I
213
927
690
323
266

11
Paal Merah II
401
939
799
383
181

12
Olak Kemang
933
1579
1310
841
4373

13
Tahtul Yaman
617
2254
1769
690
307

14
Koni
473
2333
1204
1067
666

15
Paal V
452
1541
62
833
545

16
Paal X
1345
2471
2088
948
625

17
Kenali Besar
711
2661
2005
843
504

18
Rawasari
2377
3566
3610
1243
906

19
Simpang Kawat
417
1118
763
531
241

20
Kebun Handil
1582
2688
2873
1144
548

 Data terbesar pelayanan kesehatan terhadap penduduk lanjut usia terdapat di Puskesmas Talang Bakung pada bulan Desember 2008 sampai dengan Juli 2009 sebanyak 299 lanjut usia dengan kategori sebagai berikut; (1) jumlah kunjungan baru tahun 2008 sebanyak 2.144 orang, (2) jumlah kunjungan lama sebanyak 2.708 orang, (3) berdasarkan umur; 45-49 sebanyak 2.718 orang, umur 60-69 sebanyak 1.271 orang, dan umur >70 sebanyak 749 orang, (4) gangguan mental emosional sebanyak 102 orang, (5) kasus konseling sebanyak 2.337 kasus, (6) penyuluhan 4.752, (7) pelayanan pengobatan 4.286, dan pelayanan pengobatan yang dirujuk 456.
Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik, yaitu rentannya berbagai penyakit, karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar, selanjutnya perubahan fisik gangguan kesehatan pada lanjut usia adalah kepikunan, hipertensi, jantung, ginjal, gangguan nyeri dan osteoporosdia, dan gangguan prostate (Suwarsa, 2006:3-75).
Dalam Profil Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2007 ditemukan bahwa lanjut usia menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan, antara lain diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, rematik, dan asma sehingga menyebabkan aktivitas terganggu (Profit Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2007). Penurunan fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi pancaindera, menyebabkan para lanjut usia merasa rendah diri, dan merasa tidak berguna lagi.
Untuk mengatasi masalah pada lanjut usia, salah satunya adalah dengan olah raga senam. Meski pada umumnya olahraga baik untuk kesehatan, tetapi mungkin ada beberapa bentuk olahraga yang tidak cocok dengan penyakit yang diderita para lanjut usia. Olahraga yang dapat dilakukan oleh para Lanjut usia diantaranya, jalan kaki, naik sepeda, dan senam Lanjut usia (Lansia). Senam Lanjut usia sangat baik untuk kesehatan jantung dan pare-para. Bahkan otot-otot juga akan terlatih secara teratur (Sukendro, 2009, Jambi Independent).
Mengingat fisik pada usia lanjut berbeda pada saat usia muda, maka saat ini sudah diciptakan senam khusus untuk lanjut usia. Senam lanjut usia sudah ada standar gerakannya dan sudah diakui dan aman dilakukan. Senam lanjut usia, gerakannya tidak high impact tapi bersifat low impact. Jika menggunakan musik tidak menghentak, namun lambat dan mendayu. Gerakan anggota tubuh juga cenderung untuk anggota tubuh bagian atas karena biasanya pada orang lanjut usia, telah tedadi penurunan fungsi pada jantung dan paru-paru.
Kurangnya pengetahuan dan minimnya pendidikan para lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi merupakan kendala bagi Puskesmas untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada lanjut usia. Minimnya pengetahuan dan pendidikan akan mempengaruhi sikap para lanjut usia, terutama dalam mengatasi masalah lanjut usia. Berdasarkan survei atau data awal, bahwa pengetahuan lanjut usia tentang manfaat senam di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi masih minim.
Maka dari itu, para lanjut usia di kota Jambi umumnya dan khususnya di Puskesmas Pakuan Baru perlu dibekali dengan pengetahuan tentang lanjut usia dan manfaat senam bagi lanjut usia. Sehingga dengan langkah ini, para Lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung dapat memahami pentingnya senam lanjut usia dan mau melakukan senam lanjut usia, agar para lanjut usia tetap mampu mempertahankan kesehatannya dengan baik.
Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, penulis tertarik untuk meneliti Gambaran Pendidikan, Pengetahuan, dan Sikap Lansia Terhadap Senam Lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2009.

B.     Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah "Bagaimana Gambaran Pengetahuan, Pendidikan dan Sikap Terhadap Manfaat Senam Lanjut Usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi Tahun 2009?"

C.     Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan-permasalahan lanjut usia tersebut, maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah:
  1. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi Tahun 2009?
  2. Bagaimanakah gambaran pengetahuan, tentang manfaat senam lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi tahun 2009?
  3. Bagaimana gambaran sikap lansia terhadap senam lansia yang dimiliki oleh lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi ?
  4. Bagaimana gambaran lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi ?
  5. Bagaimana gambaran pengetahuan tentang manfaat senam lanjut usia ?
  6. Bagaimana pendidikan dan sikap lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi ?
 D.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
  1. Tujuan Umum
Diperolehnya gambaran pendidikan, pengetahuan, dan sikap lansia yang mengikuti senam lansia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi tahn 2009.
  1. Tujuan Khusus
a.       Diperolehnya gambaran pendidikan lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi tahun 2009.
b.      Diperolehnya gambaran pengetahuan lanjut usia tentang manfaat senam lansia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi tahun 2009.
c.       Diperolehnya gambaran sikap lanjut usia terhadap manfaat senam lansia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi tahun 2009.

E.     Manfaat Penelitian
Hasil yang diharapkan dari penelitian adalah:
  1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi
a.       Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada lanjut usia secara komprehensif di Kota Jambi.
b.      Untuk melengkapi kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya senam lanjut usia
c.       Untuk memberikan data dan informasi dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan pembinaan dan pemeliharaan kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya bagi lanjut usia khususnya senam
  1. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam rangka meningkatkan lanjut usia tentang senam
  1. Bagi Penulis
Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penulis mengenai pengetahuan Lanjut usia dan senam Lanjut usia di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi.

F.      Ruang Lingkup Penelitian
Lingkup materi dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan, pendidikan, dan sikap Lanjut usia terhadap senam lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2009. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah pengetahuan lanjut usia tentang manfaat senam, pendidikan formal atau non formal yang pernah iikuti oleh lanjut usia, dan sikap lanjut usia terhadap senam lanjut usia.
Untuk mendapatkan data secara lengkap dalam penelitian ini, peneliti melibatkan responden lanjut usia yang berkunjung ke Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi pada bulan Juli tahun 2009 sebanyak 61 Responder. Dalam penelitian ini menggunakan data primer hasil wawancara yaitu menggunakan kuesioner, bertempat di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi, dimulai pada bulan Juli 2009.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Lanjut Usia
Tinjauan Lanjut usia akan dikaji tentang pengertian lanjut usia, karakteristik lanjut usia, menopause dan penuaan, teori penuaan, serta masalah kesehatan lanjut usia, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lanjut usia.
  1. Pengertian Lanjut Usia
Di dalam kehidupan bangsa, lanjut usia merupakan sumber daya bernilai karena pengetahuan, pengalaman hidup serta kearifan yang dimiliki, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu kehidupan keluarga dan masyarakat. Lanjut usia merupakan salah satu kelompok rawan dalam keluarga, dan lanjut usia memerlukan perhatian khusus sesuai dengan keberadaannya (Depkes RI, 2006:1).
Lanjut usia merupakan proses alami yang terjadi pada setiap individu yang tidak dapat dihindari dan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi organ tubuh (Depkes RI, 2004:1). Proses penuaan pada lanjut usia diikuti dengan kemunduran baik fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomi. Hal ini akan mengakibatkan permasalahan pada pada lanjut usia. Penyakit degeneratif yang sering menyertai usia lanjut bersifat menahun dan berbagai kelainan serta komplikasi sehingga dalam penangganannya memerlukan waktu lama dan membutuhkan biaya cukup besar (Depkes RI, 2004:1).
Menurut dokumen Pelembagaan Lanjut Usia Dalam Kehidupan Bangsa yang diterbitkan oleh Departemen Sosial dalam rangka pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Presiden RI, batas umur lanjut usia adalah 60 tahun atau lebih (Depkes RI, 2005:4). Seseorang digolongkan ke kelompok lanjut usia berpedoman pada usia kalendernya, dan lazimnya bila dia menginjak usia 50-60 tahun. Namun usia kelender tidak selalu dihayati secara sama oleh semua orang. Seseorang merasa dirinya tua tergantung berbagai keadaan, kesehatan tubuh/jiwanya maupun cara orang lain memperlakukan serta norma sosial budaya terhadap proses menjadi tua. Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa usia mental dan penghayatan subyektif mengenai diri sendiri lebih menentukan. Lanjut usia digolongkan menjadi tiga yaitu: (a) Golongan orang lanjut usia yang masih dapat mengurus dan memelihara diri serta rumah tangganya dalam kehidupan sehari-hari, (b) Golongan orang lanjut usia yang keadaan fisik, mental, rohaninya tidak sepenuhnya lagi sehat, (c) Golongan orang lanjut usia yang sakit dan tidak dapat meninggalkan rumah atau tempat tidurnya (http-Hsubhankadir.wordpress.com Achir, 2007).
Dengan demikian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1965 dapat dismpulkan bahwa lanjut usia adalah Seseorang yang berumur 65 tahun ke atas. Lanjut usia merupakan batas akhr dari proses penuaan. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan dalam mendefinsikan batasan penduduk lanjut usia, yaitu aspek biologi, ekonomi, dan sosial (1998) (http://subhankadir.wordpress.com Lesmana. 2006).
Secara biologis lanjut usia adalah seseorang yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang menyebabkan kematian. Secara ekonomi penduduk dipandang sebagai beban daripada sumber daya. Dengan demikian, kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada anggapan masa tua dipersepsikan negatif sebagai beban keluarga. Dari aspek sosial, lanjut usia merupakan suatu kelompok sosial sendiri. Akan tetapi di Indonesia lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh kaum muda (Suara Pembaharuan, 14 Maret 1997).
Kantor Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat (1994) mendeskripsikan bahwa permasalahan yang banyak dialami oleh lanjut usia di Indonesia adalah; menurunnya kondisi kesehatan, mundurnya kemampuan fisik, menurunnya kondisi mental, belum berfungsinya potensi yang dimiliki, banyak yang hidup terlantar, tidak ada pekerjaan, tanpa bekal hidup serta kondisi penopang yang belum memuaskan (Depkes RI, 2005:23).

  1. Karakteristik Lanjut Usia
Merujuk kembali hasil ASEAN Teaching Seminar on Psychogeriatric Problem, maka persoalan dan keluhan pada lanjut usia meliputi tiga area, yaitu:
  1. Organo-biologik, misalnya: dementia, gangguan fungsi afektif, sulit tidur, diabetesmelitus, hipertensi, dan lain-lain.
  2. Psiko-edukatif seperti perasan kesepian, kehilangan, ditolak dan tidak disenangi sanak keluarga, adaptdis, dan lain-lain.
  3. Sosio-ekonomi dan budaya misalnya: kesulitan keuangan, kesultian mendapatkan pekerjaan, tidak punya rumah, tidak menetap, dan lain sebagainya.
Dari literatur dapat pula diketahui berbagai karakteristik usia tua seperti menurunnya kecekatan tubuh, konsentrasi, daya ingat dan berbagai fungsi psiko-motorik lain. Pada mulanya, sebelum penuaan menjadi sangat nyata dari segi penampilan tubuh, orang cenderung untuk mengingkari bahwa dirinya telah menjadi tua (http://subhankadir.wordpress.com Achir, 2007).
Proses menua bukan merupakan penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu bayi, anak-anak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi lanjut usia. Proses penuaan berlangsung secara alamiah, terus-menerus dan berkesinambungan, yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokemis pada jaringan tubuh dan akhimya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan.
a.       Usia, biologis yaitu jangka waktu seseorang sejak lahir berada dalam keadan hidup, tidak mati.
b.      Usia psikologis: yaitu kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.
c.       Usia sosial: yaitu peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya. Ketiga hal tersebut sering mempengaruhi dan prosesnya saling berkaitan (Depkes RI, 2005:1).
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan, saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit (http://subhankadir.wordpress.com/2007/08/20/9/). Proses penuaan ditandai oleh kemunduran-kemunduran biologis, dan kemunduran kemampuan-­kemampuan kognitif.
Kemunduran-kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik antara lain: a) kulit mulai mengendur dan pada wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap, b) rambut mulai beruban dan mulai putih, c) gigi mulai ompong, d) penglihatan dan pendengaran mulai berkurang, e) mudah lelah, e) gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, f) kerampingan tubuh mulai menghilang, disana-sini terjadi timbunan lemak terutama dibagian perut dan pinggul (Depkes RI, 2005:2).
Kemunduran kemampuan-kemampuan kongnitif antara lain sebagai berikut: a) suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik, b) ingatan hal-hal dimasa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru terjadi; yang pertama dilupakan adalah nama-nama, c) orientasi umum dan persepsi terhadap waktu dan ruang/tempat juga mundur, erat hubungannya dengan daya ingat yang sudah mundur dan juga karena pandangan biasanya sudah menyempit, d) meskipun telah mempunyai banyak pengalaman, skor yang dicapai dalam test-test intelgensi menjadi lebih rendah, e) tidak mudah menerima hal-hal atau ide-­ide baru (Depkes R1, 2005:2).
Perubahan yang terjadi akibat proses menua adalah perubahan fisik dan perubahan psikologis. Perubahan fisik antar lain: rambut beruban dan mulai rontok, banyak gigi yang ompong, kulit mulai mengendur, kulit wajah keriput. Sedangkan perubahan psikologis diantaranya adalah pola tidur terganggu, irama tidur berubah, sulit tidur, sering lupa, merasa kurang mendapat perhatian (Depkes RI, 2004:2).

  1. Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia
Perbaikan kwalitas hidup dan pelayanan kesehatan secara umum berdampak pada peningkatan umur harapan hidup dan jumlah lanjut usia. Di Indonesia kesehatan dan kesejahteraan para lanjut usia diatur dalam Undang­-Undang. Kesejateraan lanjut usia di Indonesia telah tercantum dalam Undang­Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3796 yang diimplementasikan secara terfragmentasi oleh berbagai departemen atau intitusi terkait. Perlindungan kesehatan bagi lanjut usia telah tertuang pada UUD 1945 Amandemen, Pasal 28 H dan 34 ayat 2 menyatakan bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan, serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2000 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Depkes RI, 2005:22).

  1. Perlindungan Kesehatan Bagi Lanjut Usia
Untuk meghasilkan penduduk lanjut usia yang sehat memerlukan kerjasama yang baik antara keluarga, masyarakat, pemerintah dan kelompok pemerhati kesejahteraan lanjut usia, serta profesi dibidang kesehatan. Sebagaimana Jaminan kesehatan yang tercantum pada Sistem Jaminan Sosial Nasional, perlindungan bagi lanjut usia dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan.
Pelayanan lanjut usia dengan penyakit kronik dan denegeratif, dalam penyusunan benefit package bagi lanjut usia perlu pelayanan home care, longterm care, serta pemberian alai bantu. Pelayanan kesehatan di tingkat primer difokuskan pada tindakan promotif dan preventif serta pengobatan esensial, dimana dokter umum, dokter keluarga dan puskesmas diharapkan memiliki kompetensi dasar dibidang gerontology bertindak sebagai "gate keeper" (Depkes RI, 2005:24-25).

B.     Pengetahuan
Pengetahuan (Know Ledge) merupakan hasil pemikiran atau pengukuran setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan tersebut dilakukan dengan menggunakan panca indra manusia. Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Noto Admodjo, 1997:94-95). Beberapa tingkatan pengetahuan diantaranya adalah:


  1. Tahu (Know)
Tahu atau know diartikan sebagai suatu materi yang sudah dipelajari sebelumnya dengan kata lain tingkatan ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
  1. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar
  1. Aplikasi (Application)
Aplikasi atau application diartikan sebagai kemampuan menggunakn materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisii real atau sebenarnya.
  1. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menggambarkan materi atau objek kejadian kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organdisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
  1. Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
 
  1. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

C.     Pendidikan
Pendidikan (educare) merupakan proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991:232). Dalam Dictionary of Psychology (1972) pendidikan diartikan "the institutional proceures which are employed in accompldiahing the development or knowledge, habits, attiudes, ect. Usually the term dia applied to formal institutional. " Jadi, pendidikan berarti suatu tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya.
Menurut Poerbakawatja dan Harahap 1981 (dalam Muhibbin Syah, 1999: 11) pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya menigkatkan kedewasaan yang diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
 
D.    Sikap
Setiap manusia yang normal memiliki sikap atau perilaku yang baik. Sikap atau reaksi yang masih tertutup dengan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan, atau dengan konotasi adanya kesesuaian dengan stimulus (Notoadmojo, 2003:130).
Setiap manusia mempunyai tingkatan sikap, hal ini dikemukakan oleh Notoadmojo, 2003:132, sebagai berikut:
1.      Menerima, yaitu bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan atau disebut dengan objek.
2.      Merespons, yaitu memberikan jawaban. Adanya komunikasi yang terarah. Atau dengan kata lain memberikan jawaban apabila mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap (karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan). Dengan demikian berarti orang tersebut menerima ide.
3.      Menghargai, yaitu merupakan sikap yang terhormat. Menghargai orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan suatu masalah.
4.      Bertanggung jawab.
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Sehinga pengukuran, sikap akan dilakukan secara langsung, dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pendapat atau pertanyaan merespon suatu objek direspon dengan baik dan benar.

E.     Olahraga (Aktivitas Senam)
Menurut Muhajir (2003:143) senam merupakan bentuk latihan fisik yang disusun secara sistematik dengan melibatkan gerakan-gerakan yang terpilih dan terencana untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa senam mempunyai sistematika tersendiri serta mempunyai tujuan yang hendak dicapai, seperti daya tahan, kekuatan, kelentukan, koordinasi, atau bisa juga diperluas untuk membentuk prestasi, membentuk tubuh yang ideal, dan memelihara kesehatan terutama pada kalangan lanjut usia.
Olahraga senam merupakan olahraga untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani yang dilakukan dengan baik dan benar, teratur, serta terukur. Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan fisik dan mental yang berlebihan (Depkes RI, 2005:51).
Meski pada umumnya olahraga baik untuk kesehatan, tetapi mungkin ada beberapa bentuk olahraga yang tidak cocok dengan penyakit yang diderita orang lanjut usia Mengenai olahraga yang dipilih, sebenarnya cukup banyak, seperti jalan kaki, naik sepeda, senam. Kesemua olahraga ini baik untuk kesehatan jantung dan paru-paru. Bahkan otot-otot juga akan terlatih secara teratur.
Senam atau olahraga senam merupakan sebagian kegiatan dari kehidupan manusia yang memerlukan adaptasi fisiologi dan tubuh perlu menyesuaikan diri terhadap keseimbangan baru akibat perubahan tersebut. Setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda dalam melakukan olahraga atau senam, sehingga untuk melakukan senam perlu diketahui latihan sesuai dengan kondisinya, terutama pada lanjut usia dengan keluhan atau kelainan fisik yang ddisebabkan oleh proses degeneratif, dan penyakit.
Senam lanjut usia mempunyai berbagai manfaat, diantaranya adalah:
a.       Aspek Fisiologis
1.      Meningkatkan daya tahan jantung, paru dan pembuluh darah
2.      Meningkatkan daya tahan dan kekuatan otot
3.      Meningkatkan kepadatan tulang
4.      Meningkatkan fleksibelitas
5.      Meningkatkan daya tahan tubuh
6.      Mengurangi resiko terjadinya penyakit
b.      Aspek Psikologis
1.      Memberi perasaan santai
2.      Meningkatkan percaya diri
3.      Membangun sportivitas
4.      Memupuk tanggung jawab
5.      Mengurangi stres
c.       Aspek Sosial
1.      Pemberdayaan usia lanjut
2.      Peningkatkan integritas sosial dan kultur
3.      Memupuk kesetiakawanan sosial
4.      Kegiatan antar generasi

F.      Manfaat Senam Lanjut Usia Menurut Jan Clark
  1. Gerakan Ayunan Kaki dapat Meningkatkan Fleksibelitas, dan Sirkulasi Darah
a.       Berlututlah sambil meletakan kedua tangan di lantai. Anda bisa melakukan gerakan ini dengan atau tanpa beban pada tangan. Jika anda memilih untuk menggunakan beban letakan satu beban pada lekukan-lekukan lutut kanan anda. Angkat sedikit kaki bagian bawah anda untuk menjaga letak beban.
b.      Angkat lutut yang ditekuk hingga sejajar dengan tulang belakang dan telapak kaki kanan mengarah ke langit-langit.
c.       Ayunkan kaki tersebut ke bawah sehingga lutut anda berada di bawah dada kembalilah ke posisi semula dan turunkan kaki ke bawah. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Merangkak dapat Memberikan Tumpuan Pada Lengan dan Tangan
a.       Berlututlah sambil meletakan kedua tangan di lantai. Patahan punggung anda tetap turun.
b.      Sambil menjaga lutut dan kaki tetap diam, perlahan-lahan jalarkan tangan ke depan sehingga lengan anda menumpang sebagaian besar berat badan anda. Pastikan tulang belakang anda tetap lurus.
c.       Sekarang jalarkan tangan anda ke samping. Gerakan ini dapat meningkatkan kekuatan tulang lengan anda setelah itu. Jalanan tangan anda ke posisi semula hingga anda kembali berlutut seimbang dengan kedua tangan di lantai. Ulangai gerakan beberapa kali berdiri. Cara berdiri yang baik adalah sebagai berikut:
1.      berdirilah dengan kedua kaki anda terbuka dan sejajar dengan pinggang
2.      pastikan kedua kaki anda mengarah ke depan
3.      kaki anda harus lurus tetapi sendi lutut tidak terkunci
4.      biarkan kedua tangan jatuh secara alami dikedua sisi tubuh anda tepat di samping pinggang
5.      rasakan berat badan anda bertumpu di tengah tiap kaki
6.      jangan bersandar ke belakang dan membiarkan berat badan anda tertumpu pada tumit atau menaruh berat badan anda pada ujung kaki

  1. Perengangan Otot Hemstring.- Latihan ini dapat Merenggangkan dan Tungkai
a.       Letakan pantat anda di tepi meja atau pada sandaran tangan sehingga cukup untuk menopang panggul. Letakan tumit salah satu kaki di atas bangku pendek dihadapan anda. Pastikan letak bangku tersebut cukup dekat sehingga anda tidak harus meregangkan kaki untuk mencapai putar kaki ke arah luar untuk meregangkan pantat dan otot hamatring anda.
b.      Selanjutnya putar kaki ke arah dalam untuk meregangkan, bagian dalam otot hamstring anda.
 
  1. Peregangan Bahu dapat Meregangkan Otot-Otot pada Bahu
a.       Berlututlah di lantai dan letakan sebuah bantal diantara lutut dan betis. Reams bantal dengan kaki dan satukan ke dua tangan di belakang tubuh anda sejajar dengan pantat. Tarik napas angkat dasar panggul, dan tarik otot perut anda
b.      Buang napas, bahu ke belakang dan rapatan tulang belikat anda
c.       Regangkan tangan anda menjauhi pantat. Tahan posisi ini selama 3 tarikan napas

  1. Peregangan Leher dapat Meregangkan Leher dan Memberikan Relaksasi
a.       Duduklah pada tepi kursi atau tempat tidur. Tundukan dagu anda kearah dada. Biarkan tubuh anda meleleh seperti es balok mulai dari otot dada dan otot perut. Sambil membiarkan tulang belakang anda sejauh ke depan tahan posisi ini selama 10.30 napas panjang perlahan.
b.      Jatuhkan telinga kanan anda ke arah bahu kanan sejauh mungkin tahan. Tahan selama 10.30 napas panjang perlahan.
c.       Sekarang jatuhkan telinga kiri anda ke arah bahu kiri sejauh mungkin. Tahan selama 10.30 napas panjang perlahan.

  1. Peregangan Kucing dapat Memperkuat Sambungan Tulang Belakang
a.       Mulailah dengan berlutut dengan kedua kaki di atas lantai pastikan ke dua tangan anda sejajar dengan bahu dan pinggul tepat di atas lutut. Pastikan punggung anda rata dan kepala serta leher segaris dengan panggung dan pararalel dengan lantai. Tarik napas Sambil merasakan napas masuk di antara tulang belikat anda. Tarik dasar panggul anda ke atas dan otot perut anda ke dalam.
b.      Sambil membuang napas lekukan tulang, ekor ke bawah tubuh, dorong ke arah tangan dan angkat tulang dada anda, tundukkan dagu dan kepala anda buang napas dan turunkan anda kembali ke posisi semula (langkah I) dengan memberikan urutan-urutan gerakan kembalikan kepala anda ke posdiai semula, sejajar dengan lantai diikuti oleh dagu dan akhir tulang ekor.
    
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI

A.     Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka konsep, penelitian ini mengacu pada kerangka teori Lawrence Green (1980) dalam Notoadmodjo (1996: 164) yaitu faktor prediposisi (pelayanan, sikap, motivasi) faktor pendukung (tersedianya sarana dan prasarana kesehatan), faktor pendorong (keluarga, teman, masyarakat, petugas kesehatan, bidan atau perawat)
Kerangka konsep dalam penelitian ini menggunakan variabel bebas, yaitu para lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung dan variabel terikat yaitu pasien atau para lanjut usia di Puskesmas Talang Bakung Jambi.
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian Gambaran Pengetahuan, Pendidikan dan Sikap
Lanjut Usia Terhadap Manfaat Senam Lansia
Di Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2009










Text Box: Perilaku Senam bagi Lanjut Usia

 










Keterangan:
(                             ) = Tidak  diteliti
B.     Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara/Alat/ Hasil Ukur
1
Lanjut Usia
Lanjut usia menrupakan proses alami yang terjadi pada setiap individu dan tidak dapat dihindari dan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi organ tubuh.
Kategori umur:
50 - 59
60 – 69
> 70
2
Senam Lansia
Senam merupakan suatu kegiatan manusia yang memerlukan adaptasi fisiologi dan tubuh perlu menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh dengan tujuan untuk mengetahui manfaat senam meningkatkan kesehatan secara alami
Cara : Wawancara
Alat  : Kuesioner
Skala: Ordinal
Hasil Ukur:
0 = Tidak sama sekali
1 = Tidak pernah
2 = Pernah
3
Pendidikan
Jenjang pendidikan formal yang pernah diselesaikan oleh responden berdasarkan ijazah

Cara : Wawancara
Alat  : Kuesioner
Skala: Ordinal
Hasil Ukur:
0 = Tidak sekolah
1 = SD/MI
2 = SMP/MTs
3 = SMA/SMK
4 = P
4
Pengetahuan
Segala yang diketahui oleh responden berkenaan dengan senam lanjut usia sampai tingkat pemahaman, manfaat senam, dampak jika tidak mengikuti senam lanjut usia
Cara : Wawancara
Alat  : Kuesioner
Skala: Ordinal
Hasil Ukur:
0 = Rendah
1 = Sedang (50%)
2 = Tinggi (> 50%)

5
Sikap
Pernyataan persetujuan responden terhadap senam lanjut usia
Cara : Wawancara
Alat  : Kuesioner
Skala: Ordinal
Hasil Ukur:
0 =  Negatif <median
1 = Positif > mean



Tidak ada komentar:

Posting Komentar