Cafebahasa hadir sebagai sarana edukasi, pembelajaran, komunikasi serta sebagai media informasi bahasa, sastra, seni, opini-artikel, dan hasil mahakarya (proses kreatif). Kirimkan partisipasi Anda melalui email bbg_cla@yahoo.com

Jumat, 18 November 2011

Artikel "Puisi Sebagai Bait Lama yang Mendekam"

Puisi sebagai Bait Lama yang Mendekam 
 



Begitu jujurnya, sehingga saya menjadi bertanya-tanya kepada siswa ketika mereka mengumpulkan tugas membuat sebait puisi. Seringkali, saya setiap mengajar di bangku SMP selalu memberikan tugas atau pekerjaan rumah untuk menulis sebait puisi.
Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dalam dunia puisi, khususnya dikalangan pelajar SMP. Siswa dibangku SMP adalah tergolong remaja. Remaja hanya mengenal puisi sebagai bait-bait lama yang mendekam abadi dibuku-buku mata pelajaran bahasa. Atau kalau tidak puisi hanya dijadikan ungkapan kerinduan kepada kekasih dalam syair penyanyi dan idola band semata.
     Banyak orang yang tidak dapat membahasakan imajinasi. Padahal setiap orang mempunyai imajinasi yang sangat kaya, dan beranekaragam tema atau inspirasi. Mungkin saja imajinasi yang dimilikinya hanya menjadi mimpi-mimpi kosong yang akan hilang begitu saja.
            Mengapa? Karena imaji yang dimilikinya tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Pada prakteknya, setiap kali saya mengoreksi puisi-puisi yang ditulis oleh siswa SMP di sekolah saya mengajar, rata-rata puisi yang ditulisnya adalah merupakan ungkapan kerinduan kepada kekasih. Setiap bait puisi yang digoreskannya mengandung bahasa-bahasa cinta dan sebagian besar, ditulis dalam puisi yang cengeng.
     Dalam tulisan ini saya akan meminjam istilah Salman Iskandar, bahwa ‘’ada gium ini laksana sebuah kompor yang memanasi setiap inci permukaan wajah hingga isinya matang dan layak dikonsumsi.’’
            Jika kita menginginkan sesuatu, maka sekuat apa niat dan motivasi kita untuk mewujudkannya. Menulis puisi melalui syair lagu merupakan cara mudah bagi siswa-siswi untuk menuangkan ide, dan gagasannya. Tema seputar kerinduan kepada kekasih, mungkin merupakan hal yang paling mudah untuk diungkapkan.
            Perhatikan salah satu bait puisi berikut ini; //angin malam mengelus daun jendela// disaat-saat dirimu tidur// menatapi wajah dalam bingkaian foto segitiga// yang terpampang di atas meja belajarmu// oh...senyummu kian memikat hatiku// kasihku..aku rindu padamu.
            Puisi-puisi yang ditulis oleh siswa-siswi SMP ini sangat terpengaruh dengan syair-syair lagu band masa kini. Group band yang berjamuran hampir sebagian besar menyanyikan lagu-lagu tentang cinta. Cinta menjadi masalah utama dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Termasuk didalamnya patah hati. Maka tidak heran jika, banyak siswa yang menuliskan puisinya mengilhami lagu-lagu band saat ini. Bagi mereka yang kesulitan untuk berimajinasi, mereka akan meniru syair-syair lagu-lagu band yang ia idolakan. Lalu apakah salah jika mereka berimajinasi demikian?
            Saya sering menekankan kepada semua siswa untuk membuat puisi yang jujur dan orisinil. Baik itu jujur dalam berinpirasi, dan orisinil dari pemikiran sendiri, terlepas dari kisah nyata dalam hidupnya, khayalan atau impian-impian, atau mungkin karena kegelisahan dalam hidupnya.
            Berikut kutipan bait puisi; //hari-hari bersamamu dalam suka dan duka// kuingin candamu warnai hariku// dan kehadiran cinta sambut jiwa baru// meski kerinduan ini hanya semu. Kalau kita pahami secara seksama dan teliti, bahwa bait puisi tersebut beraromakan syair-syair lagu band sekarang. Dalam artian siswa menulis bait puisi mengambil penggambaran imajinasi dari syair-syair lagu band idolanya.
            Mengapa sebuah kejujuran penting. Karya cipta puisi, bukanlah sekedar syair kerinduan, melainkan sebuah ungkapan imaji dari seorang penulis yang jernih. Karenanya, karya puisi dapat diciptakan oleh siapa saja yang mengenali dan mampu menuangkan ide, gagasan atau imajinasi secara menarik, indah, dan mempunyai nilai estetis yang tinggi. Dengan imajinasi yang jujur, ruang ciptanya atau karyanya akan menjelma menjadi jendela sekaligus cermin bagi banyak orang. Saya percaya, jika hal ini terlaksana, maka sebait puisi pun akan mudah diterima kalau ia mampu menjadi cermin.
     Sebenarnya saya mengharapkan, bahwa siswa mampu menulis bait puisi yang bernilai sastra. Mengapa? Karena puisi yang ‘enak’ adalah puisi yang hidup dan berjiwa, yang tercipta dari imaji yang terjalin dalam diri seorang penulis. Dengan demikian, siswa mampu menciptakan ruang baru. Karena dari ragam sosok diri itulajh dapat ditemukan beragam kisah. Sehingga bait puisi yang dibuatnya dapat dirasakan denyut imajinya, mimpi-mimpinya, keluh-kesahnya, hingga aroma atau ciri khasnya dapat dirasakan oleh setiap penikmat atau pembaca karyanya.
     Salah satu pertanyaan yang pernah saya lontarkan kepada siswa adalah; “Bagaimana kamu bisa berbincang dengan dunia khayal dan kenyataan?”. Beberapa siswa menjawab dengan “puisi”. Secara tidak langsung saya menyimpulkan bahwa setiap siswa suka dengan puisi. Mengapa puisi? Karena puisi membahasakan imaji. Perlu diketahui bahwa saat ini remaja hanya mengenal puisi sebagai bait-bait lama yang mendekam abadi dibuku-buku pelajaran bahasa.
     Guna merangsang siswa agar mau dan mampu menulis puisi dan mempunyai kemauan untuk membaca puisi serta berapresiasi puisi adalah dengan cara mengkoleksi puisi atau sajak yang diterbitkan di media massa. Saya melakukan hal ini, karena pada usia remaja, siswa SMP sangat produktif, gencar, dan semangat untuk berapresiasi. Dunia imaji mereka masih segar, seperti aliran embun pagi hari. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa menciptakan ruang yang baru tidak selalu identik dengan menerbitkan suatu karya.
     Sering kali saya menekankan kepada siswa bahwa menulis bait puisi tidak selalu identik dengan menerbitkan suatu karya di media massa. Maksusnya, menulis tidak selalu identik dengan menerbitkan karya. Kadangkala sebuah karya yang sudah finish hanya berakhir di hardisk komputer, atau bahkan hanya sekedar diprint dan disimpan begitu saja. Beberapa diantaranya bahkan dikembalikan oleh media massa. Namun, publikasi karya menjadi prioritas kesekian, tetapi yang terpenting adalah menciptakan sebuah kreativitas dan ruang baru atau menuangkan imajinasi yang terpendam.
     Namun, dalam menulis sebait puisi ini pun ada beberapa siswa yang gagal merangkai kata, mengolah diksi dan gagal menempatkan gaya bahasa. Entah mengapa hal ini terjadi, terlihat dari kutipan berikut; //tiada yang pernah mengerti// oh..adindaku// nasibku// kan kubuktikan mampu penuhimu.//
            Kutipan puisi tersebut menjadi kalimat yang dangkal, sehingga tidak ada makna, atau tidak ada getaran yang menuntunya, yang akhirnya maknanya kabur. Maka dari itu, untuk menulis sebait puisi pun perlu teknik dan latihan. Teknik dan latihan bertujuan untuk membiasakan imajinasi berkeliaran dan tangan dapat meruap sebuah kreativitas yang mengandung banyak inspirasi. Sehingga sebait puisi yang ditulisnya ‘enak’, yaitu sebait puisi yang hidup dan berjiwa dan menakjubkan pembaca.***

Bambang Setiawan, SPd
Alumnus PBS Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi, saat ini menjadi Waka Kesiswaan dan Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/SMA/SMK Pelita Raya Jambi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar